Tuesday, June 5 0 Comments

Tertawa, Cara Baru Menjadi Sehat


aat ini tertawa bisa dijadikan obat dan berkhasiat. Pernyataan ini bukan tanpa alasan dan bukti ilmiah.
Saat seseorang tertawa sampai terpingkal-pingkal, saat itu juga ia sudah mendapatkan manfaat sehatnya tertawa. Tertawa yang sehat tidak cukup hanya sekedar tertawa, namun sampai membuat seseorang terpingkal-pingkal.
“Pada saat tertawa sampai terpingkal, otot-otot bahu, dada, perut, dan pernapasan lebih bergiat. Jantung lebih terpacu, paru-paru lebih mekar, sekat rongga badan lebih mengembang, dan peredaran darah tubuh lebih deras,” tutur Dr. Handrawan Nadesul dalam sebuah buku berjudul “Jurus Sehat Tanpa Ongkos”.
Dibalik manfaat penting dari tertawa bagi kesehatan, justru semakin beranjak dewasa seseorang, frekuensi tertawa semakin berkurang. Anak-anak tertawa sebanyak 400 kali dalam satu hari, sedangkan pada usia lanjut hanya 15 kali.
Padahal tertawa dalam waktu satu menit sama dengan relaksasi selama 40 menit. Bila tertawa selama 15 menit identik dengan membakar 50 kalori tubuh.
“Manfaat terpenting tertawa menghasilkan hormon endorphin atau morfin produksi tubuh. Tonicum alami ini membantu mengendurkan rasa ‘perih pedih’ kehidupan,” jelasnya.
Manfaat lain dari pengenduran otot saat tertawa terpingkal adalah
0 Comments

Banyaknya Orang Curhat di Jejaring Sosial


Situs jejaring sosial bukan hanya menjadi media pertemanan, pengguna juga menggunakan fungsinya sebagai cara mencurahkan isi hati. Facebook dan Twitter, dua jejaring sosial ini sering kali dipakai untuk menyampaikan keresahan, bahkan juga mencela orang lain. Hal ini merupakan sebuah penelitian baru, dilansir Times of India, Senin (21/5).

Menurut hasil survei, tujuh dari sepuluh orang menggunakan jejaring sosial sebagai tempat mencurahkan isi hati. Jejaring sosial dinilai sebagai cara terbaik untuk mendapatkan perhatian. Saat seseorang memperbarui status, sebenarnya mereka ingin mendapatkan simpati dari orang lain.
Survei yang dilakukan oleh televisi swasta di Amerika Serikat pada 2000 orang ini, lebih banyak mengeluarkan keresahan yang cenderung negatif.
Sekitar 52 persen responden curhat untuk mendapatkan simpati dari orang lain, sedangkan 30 persen ingin meluapkan kemarahannya karena cemburu, dendam dan iri hati. Satu per tiga dari orang Inggris mengatakan, penipuan, pencurian, asusila oleh orang lain merupakan sesuatu yang layak untuk diungkapkan.
Survei juga menunjukkan bahwa orang lebih banyak mencurahkan masalah mereka
0 Comments

Memilih Sekolah untuk Anak Autistik


Belum maksimalnya sekolah inklusi menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) membuat orang tua perlu selektif memilih sekolah. Bentuk ketidaksiapan sekolah inklusi meliputi jumlah siswa di setiap kelas tidak ideal, kualitas guru yang kurang memadai, dan kesiapan siswa lain menerima siswa ABK.
Mencari sekolah yang tepat bisa jadi menyulitkan orang tua, walaupun sebenarnya sudah banyak ditemui pusatpendidikan anak autistik, di kota maupun daerah.
Pasalnya autisme memiliki spektrum yang luas, gangguan ini memiliki tingkat keparahan yang bisa berbeda-beda untuk setiap anak. Keputusan orang tua menjadi penting untuk menentukan, apakah anak sesuai bila masuk sekolah inklusi atau tidak.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah melihat kemampuan anak ABK itu sendiri, jadi keputusan anak masuk sekolah inklusi harus mengikuti kondisi mereka.
“Jika kemampuan verbal, perilaku dan kognitifnya buruk, maka sebaiknya jangan dimasukkan sekolah inklusi sebab ia membutuhkan penanganan yang lebih intensif dan orang-orang yang paham menanganinya,” kata dr Adriana S. Giananjar, M.S., psikolog sekaligus pendiri sekolah khusus anak autis ‘Mandiga’, Sabtu (14/4).
Ia menghimbau pada semua orang tua untuk mau mengobservasi sekolah inklusi yang akan dimasuki, termasuk model pendidikannya. Sekolah yang bagus biasanya
0 Comments

Galau Bisa Menyebabkan Gangguan Kejiwaan


Miris, galau sudah menjadi tren bagi kalangan remaja di Indonesia. Padahal galau yang memiliki intensitas yang terlalu sering, bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan pada remaja. Gangguan tersebut dinamakan dengan bipolar, yaitu sebuah bentuk gangguan jiwa yang bersifat episodik atau berulang dalam jangka waktu tertentu. Gangguan ini biasa dimulai dari gejala perubahan mood (suana hati) dan bisa terjadi seumur hidup.

“Remaja yang dikenal sedang mengalami masa-masa galau, memang sangat mudah terserang depresi,” ungkap Dr A. A. Ayu Agung Kusumawardhani, SpKJ(K) Kepala Departemen Psikiatri RSCM.
Seseorang harus jeli melihat gejala bipolar sebagai bentuk penyesuaian diri atau sudah merupakan episode depresi.
“Kita harus lihat apakah itu hanya berupa penyesuaian diri pada keadaan atau kah sudah merupakan episode depresi,” kata Agung saat dalam seminar ‘Gangguan Bipolar: Dapatkah Dikendalikan?’ di Hotel JW Marriott Jakarta, Rabu (25/4).
Episode depresi biasa terjadi pada penderita bipolar, minimal setiap hari selama dua minggu.
“Hal ini dapat terlihat dari perilakunya, yang tidak mau bertemu dengan orang-orang, pesimistik, memikirkan sesuatu yang nihilistik, maka kemungkinan untuk dapat terpicu bipolar 30 persen,” papar Agung.
Perlu dibedakan antara depresi reaktif dan depresi pada gangguan bipolar. Tentu cara membedakannya dengan melakukan serangkaian tes tertentu. Hal ini diucapkan oleh dr.Handoko Daeng, SpKJ(K) Ketua Seksi Bipolar Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), yang saat itu hadir dalam acara seminar.
“Jenis depresi yang berbeda, karena setiap orang pasti dapat merasakan sedih dan pesimis. Namun bila itu terjadi terus menerus
0 Comments

Menggambar, Stimulasi Perkembangan Otak Anak


“Mewarnai dan menggambar membantu menjalankan fungsi berpikir si anak melalui ide-ide yang dituangkannya. Ini dapat mengasah otak halus dan kasar. Terutama bermanfaat untuk perkembangan otak halusnya,” terangnya, Kamis (24/5).
Ia menyarankan, kebiasaan untuk menggambar dan mewarnai perlu dikenal sejak usia dini. Menurutnya, usia satu tahun adalah usia yang tepat untuk mengenalkan alat menggambar seperti pensil, walaupun hanya sebatas memegang. Bila usia anak telah mencapai dua tahun, orang tua bisa mulai mengajarkan untuk menggambar dan mewarnai, walaupun hanya corat-coret.
Ibu dua putra ini mengatakan, berbagai macam warna juga bagus untuk dikenalkan sejak dini. “Warna-warni itu sebagai penyeimbang otak mereka. Justru bagus dikenalkan semuanya. Begitu juga dengan obyek gambar terserah dengan keinginan anak,” jelasnya.
Walaupun demikian, Harlina Hamid juga

 
;